Wednesday, September 27, 2017

APRIL Group


Image Source: APRIL
Pengelolaan Risiko Kebakaran APRIL Begitu Komprehensif
Iklim yang hangat dengan matahari bersinar sepanjang tahun merupakan karunia tersendiri bagi Indonesia. Namun, di balik itu semua, ada risiko kemunculan kebakaran lahan dan hutan. Ancaman inilah yang selalu diantisipasi oleh APRIL Group.
            Sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia, APRIL Indonesia amat berkepentingan terhadap kelestarian alam. Salah besar jika perusahaan seperti APRIL menyukai terjadinya kebakaran lahan dan hutan. Pasalnya, banyak kerugian yang akan mereka dapatkan.
            Sebagai gambaran, sesudah dilanda kebakaran, nutrisi tanah bakal berkurang. Tentu saja itu akan mengurangi produktivitas sebuah lahan. Selain itu, kualitas air bakal menurun. Itu masih ditambah dengan peningkatan risiko erosi. APRIL yang mendapatkan suplai bahan baku dari hutan tanaman dengan konsep terbarukan jelas tidak bakal menyukai semua kondisi tersebut.
            Hal itu masih ditambah dengan berbagai bentuk kerugian lain. World Wild Fund for Nature (WWF) menyebutkan ada empat kerugian besar jika kebakaran tercipta. Pertama, habitat satwa liar bakal rusak atau malah hilang. Akibatnya keanekaragaman hayati sebuah area akan hancur.
            Bahaya yang kedua terkait keseimbangan iklim. Jika lahan dan hutan terbakar, maka emisi gas rumah kaca akan meningkat. Sebaliknya, karena sudah rusak karena kebakaran, hutan tidak bisa lagi menyerap karbon dioksida. Ujung-ujungnya pemanasan global pasti tercipta.
            Adapun kerugian ketiga berkaitan langsung dengan manusia. Banyak penyakit yang akan muncul seiring dengan api yang membesar liar di lahan dan hutan. Gangguan pernapasan merupakan bahaya yang paling nyata.
            Ketika semua itu terjadi, negara akan menderita kerugian secara ekonomi. Aktivitas perekonomian bisa lumpuh atau setidaknya terganggu. Tirto.id melaporkan bahwa kerugian Indonesia akibat kabut asap yang muncul sebagai imbas kebakaran lahan dan hutan pada 2015 mencapai 15 miliar dollar Amerika Serikat.
            Melihat kondisi itu, terlihat jelas tidak ada keuntungan sedikit pun ketika kebakaran lahan dan hutan terjadi. Oleh karena itu, APRIL berusaha keras untuk mengantisipasinya. Manajemen risiko kebakaran segera dijalankan dengan komprehensif.
            Dalam penanganan risiko kebakaran, APRIL Asia memulainya dengan pengelolaan lahan. APRIL berpegang terhadap Pengelolaan Hutan Berkelanjutan 2.0. Kebijakan ini dibuat dengan memperhatikan masukan dari Stakeholder Advisory Committee (SAC) dan para pemangku kepentingan lainnya dari masyarakat sipil.
            Wujud nyatanya cukup beragam. APRIL memastikan tidak ada proses deforestasi. Bahan baku dijamin tidak diperoleh dari lahan yang dibuka dengan pembakaran.
APRIL juga hanya akan mengembangkan wilayah yang tidak berhutan, sesuai hasil identifikasi melalui penilaian Nilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value) dan penilaian Stok Karbon Tinggi (High Carbon Stock). Sebaliknya, mereka justru akan melindungi kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi dan Stok Karbon Tinggi.
Kebijakan antipembakaran diterapkan pula kepada pemasok. APRIL menegaskan tidak akan menerima suplai kayu dari pemasok yang terlibat pembakaran hutan. Mereka juga menolak bahan baku dari pemasok yang mendapatkannya secara ilegal. Hal ini bertujuan agar alam tetap lestari.
Selain manajemen lahan, pengelolaan risiko kebakaran APRIL ditekankan ke langkah preventif. Pendekatan ini dipilih karena mencegah kebakaran dirasa lebih efektif dibanding mengatasi atau memadamkannya.
Langkah preventif yang dilakukan APRIL Indonesia demi mencegah kebakaran dimulai dari penyadaran kepada masyarakat. Harus diakui, banyak sekali kejadian kebakaran yang muncul akibat ulah manusia. Oleh karena itu, penting sekali agar muncul kesadaran terhadap bahaya api.
Untuk melakukannya, APRIL Indonesia dengan gencar melakukan beragam sosialisasi bahaya kebakaran ke berbagai desa yang dekat dengan hutan. Di sana masyarakat diberi pemahaman tentang kerugian jika api telanjur menjalar. APRIL juga memanfaatkan berbagai media seperti papan petunjuk, reklame, serta poster untuk menanamkan kesadaran risiko kebakaran kepada khalayak.
Dari beragam langkah preventif tersebut, Program Desa Bebas Api menjadi terobosan terpenting. Dalam kegiatan ini, masyarakat diajak untuk aktif menjaga wilayahnya dari bahaya kebakaran. Jika mampu melakukannya, mereka akan diberi insentif oleh APRIL.
Program Desa Bebas Api dilakukan di berbagai desa. Nanti desa yang berhasil mengamankan areanya dari api selama setahun akan mendapat dana hibah sebesar Rp50 hingga Rp100 juta. Uang itu boleh dimanfaatkan oleh desa untuk pemberdayaan masyarakat atau pengembangan infrastruktur.

SISTEM DETEKSI DINI DAN RESPONS CEPAT
Image Source: APRIL
Kesadaran terhadap bahaya kebakaran boleh sudah muncul di masyarakat. Namun, itu bukan berarti ancaman api telah hilang sama sekali. Beragam faktor tak terduga masih bisa memicu kebakaran.  Oleh karena itu, APRIL menyiapkan sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap kebakaran.
            Dalam mendeteksi bahaya kebakaran, APRIL Group memanfaatkan teknologi tinggi. Mereka menggunakan satelit dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) untuk memindai titik-titik api. Jika terdeteksi, APRIL akan mengirimkan tim secara langsung untuk memantau titik panas yang dimaksud.
            Secara khusus, APRIL Indonesia memakai sistem satelit MODIS dan VIIRS. Keduanya merupakan pencitraan berbasis satelit dari platform yang dimiliki NASA. MODIS dan VIIRS bekerja lewat sebuah algoritma titik panas tertentu yang disebut Fire Information for Resource Management System (FIRMS). Dengan sistem tersebut, NASA mampu mengirimkan data dalam kisaran tiga jam sesudah melewati area konsesi APRIL. Bentuknya adalah analisis titik panas yang muncul.
Terdapat perbedaan sistem kerja antara instumen MODIS dan VIIRS. MODIS berada di satelit AQUA dan TERRA milik NASA. Instrumen tersebut mampu mengidentifikasi titik panas berdasarkan suhunya.  MODIS nanti akan menginfomasikan area dengan suhu 37 derajat Celsius pada malam hari atau 42 derajat Celsius pada siang hari.
Kisaran luas area yang direkam oleh MODS mencapai 1,1 kilometer. Kawasan inilah yang nantinya dicek secara langsung oleh tim APRIL untuk  yang dicek secara langsung oleh tim APRIL untuk mencari ancaman kebakaran yang nyata.
Sementara itu, VIIRS memanfaatkan teknologi inframerah dalam mengidentifikasi titik panas. Rentang area yang dicakup oleh VIIRS lebih kecil, yakni sekitar 375 meter. Area ini yang perlu dilihat oleh tim reaksi cepat APRIL Group untuk memastikan keberadaan api.
Selain mengandalkan teknologi, APRIL juga melibatkan masyarakat dalam mendeteksi keberadaan titik panas. Mereka membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) yang memiliki kesadaran dalam menjaga wilayahnya dari bahaya kebakaran.
Sebagai tindak lanjut dari upaya deteksi dini api, APRIL juga menyiapkan tim respons cepat. Mereka segera bergerak ketika ada kebakaran yang muncul supaya tidak meluas.
Dalam program ini, APRIL Asia menyiapkan 700 orang yang tergabung di Tim Reaksi Cepat. Dari jumlah itu, 260 orang di antaranya merupakan pemadam kebakaran terlatih. APRIL melengkapi mereka dengan helikopter dan perahu amfibi untuk mempermudah proses pemadaman.
Dalam melaksanakan pekerjaannya, Tim Reaksi Cepat APRIL bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Riau. Mereka juga masih didukung oleh 630 sukarelawan pemadam api yang telah dilatih APRIL. Mereka tersebar di 39 desa di Provinsi Riau.
Beragam upaya ini membuat risiko kebakaran lahan dan hutan di kawasan konsesi APRIL maupun daerah sekitarnya sangat kecil. APRIL Group sudah siap melakukan antisipasi ketika titik panas muncul. Namun, lebih penting dari itu, semua pihak di sana telah berkomitmen mengamankan wilayahnya dari bahaya api.

No comments:

Post a Comment